Tampilkan postingan dengan label Inilah Jalan Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inilah Jalan Dakwah. Tampilkan semua postingan

Katakan ! Dari Celah Mana Kami Harus Membenci Islam ?

Tahukah kau, betapa indahnya hidup dalam naungan islam. Ada banyak ajaran kebaikan disana. Namun yang membuat heran, beberapa manusia malah menghembuskan kabar serta fitnah tentang buruknya Islam. Maka bagi siapapun yang menjadi bagian dari semua itu, beritahukanlah kami tentang kabar bagaimana cara kami harus mencari sedikit saja celah untuk membenci, memusuhi bahkan mencari sedikit alasan karena sebuah kesalahan dalam Islam yang bagi kami sangat sempurna ini.

Islam mengajarkan kepada kami kesetiaan. Kesetiaan yang pertama adalah kepada Allah subhanahu wata`ala. Maka dari itu kami diajarkan untuk tidak boleh menyamakan cinta kami kepadanya dengan satu hal apapun. Dari sana kami diajari untuk tidak menjadi pengkhianat. Bahkan dalam keadaan penglihatan manusia yang alfa dari yang kami lakukan. Hal itu bukanlah sebuah proses yang kaku, kolot dan menyiksa. Kami manusia yang punya nafsu tidak terbatas, maka kami butuh batasan, dan kasih sayang Allah sang maha rahman yang memberi batasan dan memelihara kami.

Lima kali sehari kami diwajibkan untuk bertemu denganNya. Kami boleh mendiskusikan apapun, dan berkeluh kesah ataupun mengadu apapun kepadanya. Sepertinya Allah ingin mengatakan bahwa Dia selalu ada untuk kami, lebih dekat dari pada urat leher kami sendiri. Dia sangat menyayangi kami. Bahkan saat manusia termasuk kau, tidak perduli atas kami.

Kami juga berterimakasih untuk Islam yang telah mengubah hidup kami. Karena dalam Islam kita harus bangun pagi untuk sholat shubuh, sehingga kami bisa melakukan aktivitas lainnya setelahnya. Lihatlah betapa hidup jadi lebih produktif.
Lalu dari celah manakah kami harus membenci Islam, cahaya dari Allah ini?
Adakah aturan di dunia yang lain yang begitu memuliakan wanita melebihi Islam? Islam mengajari kami para wanita, untuk menutup aurat, agar tidak tampak seperti hewan dan atau menjadi santapan liar laki- laki jalang. Islam mengajarkan kami merendahkan suara dan menundukkan pandangan, supaya perhiasan dan bakat menarik yang dianugrahkan Allah kepada kami, tidaklah menjadi barang murahan dan kami termurahkan oleh sifat seorang pelacur. Islam juga mengistimewakan kami dengan adanya mahar. Diberikannya hadiah untuk kami, dan dengan pernikahan itu, tidak semua lelaki bisa menyentuh kami, kecuali telah sah sumpah ijab kabul atas kepemilikan pada diri kami.

Islam mengajari kami tentang poligami. Bahkan kami tak boleh mencintai dunia ini dengan penuh termasuk suami kami, kecuali hanya Allah subhanahu wata`ala. Dan semakin menegaskan kepada kami betapa barokahnya menikah yang hanya diniatkan karena Allah semata.
Dan Islam membuat kami tidak harus terhina dengan dikubur hidup- hidup seperti jaman jahiliyah dahulu,dan atau hanya menjadi sekedar obyek pelampiasan nafsu para lelaki saja.
Islam mengajari kami taat kepada suami, bukan untuk merendahkan kami, namun justru disitulah kemuliaan kami, karena kami akan menjadi kedamaian di rumah mereka. Adakah kebahagiaan seorang laki- laki selain dari rasa tercukupinya beliau itu oleh karena terlayani dengan kelembutan sebagai penyeimbang sikap tegas dan kuatnya logika mereka?.

Islam mengajarkan kami untuk bersifat qonaah dan syukur atas apapun yang kami terima. Bagaimana pendapat anda jika dunia ini dipenuhi oleh wanita yang suka merengek dan selalu kurang serta serba penuntut kepada suaminya, dalam segala hal. ya Allah, betapa akan sangat menderita nasib para laki- laki.
Islam mengajarkan kami untuk mengabdi kepada suami, bahkan melebihi kepada kedua orang tua kami. Adakah kebahagiaan laki- laki yang melebihi dari semua itu?. Sungguh bahkan batin lelaki yang jahat sekalipun masih mendambakan seorang istri yang dapat mengerti dan mengabdi padanya.
Lalu dari celah manakah kami harus membenci Islam, yang telah begitu memulyakan kami ini?
Islam mengajarkan kepada kami tentang kasih sayang untuk seluruh umat manusia. Dan semua orang bisa menjadi seorang Muslim tanpa melihat latar belakang nenek moyang mereka. Islam tidak melihat seseorang dari warna kulit, status atau kedudukan dan pangkat seseorang untuk terlihat lebih mulia dihadapan Allah kecuali hanya faktor ketaqwaannya saja.
Lalu dari celah manakah kami harus membenci Islam, yang telah begitu adil ini?

Islam sama sekali tidak mengajarkan agar saling menganggu dan apalagi saling membunuh. Dan muslim diseluruh dunia dilarang membenci kaum kafir tanpa alasan yang benar atau jika mereka memerangi, baru kami akan membalas. Dalam beberapa hadist Nabi besar Muhammad SAW bahkan mewanti-wanti umatnya agar berlaku baik pada orang kafir, bahkan mengancam bagi siapapun umatnya yang berlaku buruk kepada mereka. Dan peringatan Rasulullah tersebut di catat dalam sejumlah hadist, “Barangsiapa yang mengganggu seorang kafir dzimmi maka aku yang menjadi lawannya nanti pada hari kiamat!”. (HR. Al Khathib dalam At Tarikh dari Ibnu Mas'ud radhiAllahu 'anhu dengan sanad shahih).  Bahkan jika kita menganggu orang kafir, maka akan berhadap dengan Rasul sebagai lawannya di hari akhir, Naudzubillah.
Tidak hanya itu, bahkan Allah mewajibkan memberikan perlindungan kepada orang Musrikin jika mereka meminta perlindungan, seperti tersebutkan dalam surat At Taubah ayat ke 6.
“…Dan jika salah seorang dari kaum musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya…”.
Maka benarlah bahwa Islam dan umatnya sama sekali tidak membenci kafir. Hanya orang kafir yang memerangi Islam dan umatnya yang wajib di perangi.
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Qs 2:190).
Dan tidak lupa bahwa Allahpun mengingatkan umat muslim untuk berdamai dengan orang kafir yang memerangi jika mereka telah meminta perdamaian. Hal ini seperti tersebut dalam surat An Nisaa, ayat 91,
`Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka. `
Lalu dari celah manakah kami harus membenci Islam, Agama yang begitu mendamaikan ini?

Dalam Islam tidak pernah diajarkan untuk mengadakan paksaan untuk masuk kedalamnya. Seperti tersebut dalam surat al Baqoroh, `Tidak ada paksaan memeluk agama Islam`. Bahkan Allah mengajari kami kerukunan,menghindari permusuhan, saling mengenal dan menjalin sillaturrahmi.
Islam menganjurkan agar manusia bertebaran di muka bumi, kemana saja. Maka artinya dalam perjalanan itu akan bertemu dengan berbagai jenis manusia. Oleh karena itu jika perbedaan itu dijadikan sebab permusuhan, maka bisa kau bayangkan betapa banyaknya musuh-musuh yang akan ditemui.
Ajaran tentang  zakat, infaq dan shadaqah, wakaf, hibbah, dan lain-lain  adalah media untuk mempertemukan antar orang  dan selanjutnya  bekerjasama memenuhi   kebutuhan ekonomi, sosial dan lain-lain.  Demikianlah, Islam adalah kekuatan untuk mempersatukan, dan bukan menjadikan sebab untuk manusia bercerai berai. Demikian pula Islam mengajarkan agar memperhatikan anak yatim, orang miskin, para musafir, orang yang berhutang dan  atau beban lainnya, semua itu adalah untuk mendekatkan antar orang dengan kelas yang berbeda.

 Islam juga mempersatukan manusia melalui kegiatan ritual, seperti shalat berjamaĆ”h di masjid. Selain itu adalah Ibadah haji. Dalam haji, manusia melakukan thawaf, wukuf di Arafah, melempar jumrah, dan sa’i  di tempat yang sama. Semua itu mempertemukan dan menyatukan antar manusia yang berbeda-beda.
Ajaran lain yang  sederhana tetapi indah yaitu memberikan senyum dan keramahan yang bernilai sodakoh kepada sesama, dan atau  menyingkirkan duri dari jalan, yang bernilai sebagai bagian dari keimanan. Seseorang dikatakan sempurna imannya manakala mau menyingkirkan duri (halangan) dari jalan agar tidak mengganggu orang lain.
Lalu dari celah manakah kami harus membenci Islam, yang telah begitu mendamaikan ini?
Bahkan masa lalu dari sebagian kita mungkin tidaklah baik. Namun siapa yang lebih mengasihi kita bahkan mendamaikan kita seperti Allah yang selalu mengakrabi kita?. Jika sebagian dari engkau tidak percaya, tanyakan kepada mantan penjahat atau para perusak kehidupannya sendiri. Kekuatan apa yang telah begitu kuasa memutar arah haluan hidup mereka menjadi begitu sangat baik sekarang?.
Adakah kekuatan manusia menghandle semua itu? jawabnya pastilah tidak. Ada sesuatu yang maha yang telah menghangatkan kembali jiwa mereka yang hampa.
Ternyata, bukan penjara yang melunakkan hati yang keras dan beku. Bahkan hukuman pancung pun tak akan bisa menjamin lenyapnya warisan kejelekan dari seseorang. Hanya uluran hangatnya hidayah karena kedekatan kepada Allah yang bisa membuka pintu kedamaian, dan berbeloknya kita menuju kebaikan.
Lihatlah betapa Allah mengetahui dengan detail tentang kebutuhan atas hambanya. Dan Dia tentulah yang maha tahu tentang tata aturan dan cara memulyakan hambanya.
Dan kita hanyalah manusia, tempatnya salah dan lupa. Kesempurnaan ada dalam Islam, dan kekurangan ada dalam diri kita. Dan jika kesempurnaan itu belum terlaksana karena kelemahan diri manusia, bukan berarti kesempurnaan tersebut menjadi tidak sempurna. Apakah kau berani dengan lancang mengatakan bahwa Allah adalah kurang sempurna?. Dan kita hanyalah manusia, tempatnya salah dan lupa. Kesempurnaan ada dalam Islam, dan kekurangan ada dalam diri kita. Dan jika kesempurnaan itu belum terlaksana karena kelemahan diri manusia, bukan berarti kesempurnaan tersebut menjadi tidak sempurna.
Jangan memandang sebuah kebaikan dari sisi kejelekan dan kelemahan pelakunya, seakan dirimu terlihat begitu sempurna. Dan jangan membuat sebuah kesimpulan dari kumpulan berita- berita yang hanya berasal dari kabar bohong dan atau hanya separoh saja kau dengar. Bahkan sebenarnya pemikiran seperti itu hanya merujuk pada pola pikir yang sangat negatif yang kau didikkan atas dirimu sendiri. Betapa kasihannya dirimu yang seperti itu. 
Jika kau mengajak, memaksa kami membenci Islam yang telah mengangkat derajat kami, mendamaikan kami dan mengenalkan kami pada sebuah kehidupan yang penuh dengan kebaikan, maka telitilah kembali, apakah Islam adalah begitu hina sampai tidak pantas untuk dicintai, ataukah memang nafsu hatimu yang terlalu rendah sampai kau tak bisa mengenali sebuah kebaikan?
Kroscek kembali arti kebencianmu terhadap Islam yang ingin kau tularkan kepada kami itu. Tak kenal maka tak sayang, maka kenalilah Islam dan hiduplah dalam aturan Islam yang sesungguhnya, sekali lagi yang sesungguhnya. Maka tak usah kau bersusah payah mencari jawaban atas pertanyaan hidupmu itu, maka kaupun akan terpesona karenanya, dan hatimu sendiri yang akan menjawabnya. Suatu hari batinmu sendiri akan berkata, masihkah ada celah bagi kami untuk membenci Islam?
(Syahidah/Voa-Islam.com)
Read more

Semangat Untukmu yang Lelah Berjuang. . .

[Semangat] Untukmu yang Lelah Berjuang

“ALLAH telah menjanjikan kepada orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Maidah : 9)


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaykum.wrh.wbr.

Saudaraku.

Pernahkah kita merasa lelah akan perjuangan menolong agama ALLAH? Pernahkah hati ini terasa sangat sakit, lebih sakit dari rasa disayat sembilu? Dicela karena berusaha berbuat baik, dihina karena dianggap naif. Dijauhi karena “berbeda”, dianggap aneh karena “menunduk”, dan seterusnya. Ingin sekali rasanya hati ini marah. Teriak sekeras-kerasnya! Dan mengatakan “Inilah ISLAM!”.


Saat kita ingin berubah, saat kita ingin berbuat baik, banyak sekali kadang rasa sakit dan kerapuhan yang harus kita lewati. Dianggap “norak” lah, “beda” lah, “sok baik” lah, atau sejenisnya. Saat kita berusaha menundukkan pandangan, hati harus terluka dengan cemoohan “cari uang jatuh”. Saat ukhtiy jilbabnya panjang dan syari, tak jarang fitnah “fanatik” muncul. Saat kita membawa juz 30 ke mana-mana, malah disindir “Baca komik, ye?”. Apapun yang kita usahakan untuk ALLAH, masih saja dianggap salah oleh orang yang lari dari rahmat-NYA.


Begitulah saudaraku, begitulah yang harus kita bayar untuk melihat wajah ALLAH di jannah-NYA. Begitulah yang harus kita perjuangkan jika kita mengharapkan nikmatnya salsabila (mata air surga). Begitu pulalah “ciri” yang harus kita alami untuk menjadi orang-orang yang sedikit itu, orang-orang yang disayangi dan dilindungi oleh ALLAH.


Ingatkah kau saudaraku, ALLAH sendiri yang berfirman :


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan ALLAH?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan ALLAH itu amat dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)


Subhanallah, Subhanallah, Allahuakbar.


Begitulah sebenarnya yang harus dialami oleh orang-orang yang mencintai ALLAH. Aku, saat aku merasa susah dan sedih, kuingat kata seseorang yang sangat aku hormati, “Calon penghuni syurga itu harus mengalami banyak ujian, ukh.” Selalu kuingat itu tuk menghibur hati lemahku, dan mengingat ALLAH membuat hati ini terasa tenang. Percayalah, saudaraku. Percayalah, ALLAH memilih kita untuk menolong agama-NYA.


Saudaraku.


Adakah, kita lihat kembali masa silam, saat Nabi Ayyub harus menderita sakit sedemikian parah dan lama, diuji oleh ALLAH? Saat Bapak para Anbiya (Nabi Ibrahim) harus dibakar, harus diuji untuk menyembelih anaknya sendiri? Saat Rasulullah dicaci, dimaki, dilempari dan dikejar-kejar oleh kaum kafir, untuk mendakwahkan agama ALLAH? Apakah sudah sebanding dengan perjuangan kita, ukh, akh? Subhanallah. Semoga kita termasuk golongan-golongan yang kuat juangnya. Aamiin.


Mari kita telaah saat ALLAH berfirman di sini :


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang AKU, maka (jawablah), bahwasanya AKU adalah dekat. AKU mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-KU, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-KU) dan hendaklah mereka beriman kepada-KU, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah : 186)


Subhanallah, Subhanallah, Allahuakbar.


Begitu dekatnya ALLAH, ukhtiy, akhiy. Begitu dekatnya DIA, bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Begitu dekatnya pertolongan ALLAH, hingga tak sanggup kita bayangkan betapa indahnya jalan hidup yang ALLAH siapkan untuk kita. Betapa bahagianya menjadi muslim, saudaraku, ALLAH bersama kita setiap saat, menemani kita saat sedih, menyemangati kita dengan ayat-ayat-NYA. Subhanallah, subhanallah. Hati ini bergetar menuliskannya.


“Dan sesungguhnya KAMI jadikan apa saja yang ada di muka bumi ini sebagai hiasan baginya, supaya KAMI uji siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.” (QS. Al Kahfi : 7)


Subhanallah. Subhanallah. Tak henti-hentinya kita di-“semangati” oleh-NYA. Betapa luas nikmat-NYA, betapa indah janji yang DIA patrikan untuk kita, ukhtiy, akhiy. ALLAH begitu sayang pada kita, hingga diberi-NYA-lah kita banyak cobaan dan ujian, agar DIA loloskan kita dalam “USM” ke Jannah-NYA. Aamiin. Aamiin, ya, Rahmaan. Aamiin.


Di saat hati ini serapuh kapur


Di saat tak ada teman pinjamkan bahu


Di saat lidah tak sanggup lagi bertutur


Di saat itulah, harusnya kita tak ragu


ALLAH bersama hamba-NYA, saudaraku


Menemani setiap titihan langkahmu


Hingga kapanpun tak lain kita bersyukur


Oh, ALLAH-ku


Kuatkanlah, kuatkanlah saudara-saudaraku


Berikanlah mereka asa juang yang kukuh


Berikanlah azzam tuk terus berjuang untuk-MU


Uhibbuka, Robbii..


Uhibbukunna, saudariku


ALLAH takkan jauh


ALLAH takkan lupa padamu




Tetap semangat! \(^.^)/
Sumber :  adekfi.wordpress.com
Read more

Ukhti, kamipun pernah merasakannya.. Maka kembalilah.

Tertegun aku malam ini, seorang saudariku mengeluhkan semua kegundahan hatinya..
Dia lelah dan mulai jenuh dengan aktifitas dakwah dan tarbiyah..
Entah kenapa hatinya begitu sulit dia gerakkan ke majelis-majelis ilmu lagi..
Ku terdiam dan mendengar semua ceritanya..
Setelah dia selesai, akupun tersenyum dan berkata..

Ukhti, bukan hanya kau yang merasakannya, aku juga demikian..
Bahkan akhwat-akhwat yang lain yang mungkin keilmuannya jauh di atas kitapun juga merasakannya.
Ukhti, jalan yang kita tempuh ini bukan medan yang mudah…
Kita harus mampu menekan semua keinginan kita yang sejalan dengan nafsu kita, jika itu bertentangan dengan kehendakNya..


Pilihan hidup kita ini, berbeda dengan mereka di luar sana.
Mereka yang hidup tanpa ilmu, akan bebas melakukan apapun yang mereka inginkan..
Namun kita, kita punya tujuan di atas itu semua..
Kau ingat kan ukhti ? apa tujuan kita sebenarnya? (kataku sambil tersenyum padanya)
RidhoNya.. Ridho Allah..


Kau tahu kan? Bagaimana memperolehnya? (kau hanya terdiam, dengan mata berkaca-kaca)
(tersenyum) Ridho itu hanya dapat kita peroleh dengan menjalani hidup sesuai dengan kehendakNya..
Ridho itu hanya mampu kita raih dengan menjauhi semua hal yang tak di sukainya..


Lalu bagaimana kita mampu mengetahui apa yang Dia kehendaki dan yang tak dikehendakinya?
Yah, dengan menuntut ilmu, dengan mendatangi majelis-majelis dzikir itu..
Hanya dengan begitu kita tahu, jika itu saja kita mulai lelah mencari tahu, lalu bagaimana kita bisa meraih RidhoNya?


Ukhti, Jangan kau kira, keimanan kami akhwat-akhwat yang lain selalu stabil dan berada dalam taraf tinggi, dipuncak iman..
Tidak, kami pun sama denganmu, rasa jenuh itu pun senantiasa menghampiri, namun ingatlah,
Itulah tipu daya syaitan, dia tak akan lelah mendatangi kita hingga kita melangkah di belakangnya mengikutinya dan semakin jauh dari jalan Allah..


Kamipun kadang sangat merasa malas, merasa betapa berat kaki ini melangkah, tapi kami paksakan diri ini bergerak, bahkan kalau perlu akan kami seret kaki kami menuju halaqah-halaqah itu, kenapa? ingatlah dan tanamkan dalam hatimu, hanya jiwa-jiwa terpilih yang dikuatkan Azzamnya oleh Allah untuk melangkah mendekatiNya ke taman-taman syurgaNya.


Dan katakan pada dirimu.. bahwa jiwa-jiwa terpilih itu haruslah kau..


Ukhti, ketahuilah, manusia hanya berada dalam 2 keadaan, jika ia tak berada dalam keadaan bertakwa pada Allah maka pastilah ia berada pada kondisi bermaksiat pada Allah..


Ukhti, kematian datang kapan saja, relakah kau jika kau di panggil dalam keadaan lalai padaNya?


Jika kau menghadap pada Allah dalam keadaan futur.


Alangkah merugi orang-orang yang disesatkan oleh Allah setelah beriman..


Alangkah kasihan orang-orang yang membelenggu dirinya dalam nafsu duniawi yang merupakan kenikmatan sesaat..


Alangkah menderitanya seseorang yang berjalan menyelisihi Allah..


Ukhti kau katakan malu untuk kembali, kau malu karena telah lama meninggalkan tarbiyah dan jamaah ini?


Apa yang kau malukan? Pada siapa? Allah? Akwat? Murobbiyah?


Masyaallah, ukhti.. ketahuilah, kami jauh lebih bahagia menemukanmu kembali berada dalam barisan jamaah ini, bahkan tak akan mungkin pernah terpikir di kepala kami untuk mencemoohmu, bahkan kami akan sangat kagum padamu, batapa kuat dirimu melawan godaan syaitan yang begitu besar pada dirimu dan kau mampu kembali ketengah-tengah kami..


Kami bahkan akan sangat iri padamu, betapa Allah sangat mencintaimu dengan tak pernah membiarkanmu jauh darinya, kendati banyak kekecewaan yang kau toreh di hatiNya, namun lihatlah Saking cintaNya Allah padamu, keimanan itu tetap dia lekatkan di hatimu, lihatlah betapa kegelisahan dan rasa rindu dengan jalan ini masih ada dihatimu.. lalu apa yang kau malukan? Tahukah kau? Bahwa Allah akan lebih bahagia mendapatkan hambanya yang kembali padaNya dan bertobat, dari pada seorang musafir yang menemukan bekalnya yang hilang di padang pasir.. lalu apa yang kau tunggu?


Ukhti, jangan malu, kembalilah.. jangan takut, kembalilah..


Kami masih tetap disini, seperti dulu.. menyambutmu dengan tangan terbuka..


Tak ada yang berubah..
Kau menangis.. Bahagia..
Kupeluk..
Ana uhibbuki fillah..
************************************************************


Aztriana 130311 23’53 Makassar ^_^
Read more

Katakanlah: Inilah jalanku. . .

Berawal dari sebuah lingkaran kecil majelis ilmu; replika taman-taman surga disetiap pekannya, hati setiap kita ditautkan satu sama lain berbingkai indahnya ukhuwah islamiyah. hati yang dimiliki oleh bermacam karakter pemiliknya, ada yang lemah-lembut, ada yang keras, ada yang tegas, ada yang pemalu, ada yang pendiam, ada yang cerewet, ada yang acuh, sangat beragam, namun keberagaman karakter itu dapat terlebur, terbina dan ter-up grade setahap demi setahap dalam satu halaqah tarbiyah islamiyah. layaknya potongan-potongan ayam dan kentang, bawang merah, bawang putih merica, lengkuas, jahe, kemiri, garam, lombok, kunyit, santan, daun sereh, daun salam, tak lupa air secukupnya berpadu menjadi satu dalam panci dan diolah secara apik hingga menghasilkan opor ayam yang lezat.
berawal dari sebuah halaqah tarbiyah pula, ruhiyah setiap kita dipenuhi dengan ilmu-ilmu syar'i utk bekal keistiqomahan dan semangat berburu onta-onta merah di luar sana. betapa nikmatnya dikelilingi para malaikat, didoakan oleh seluruh penduduk langit dan bumi, ditinggikan derajat kita beberapa derajat olehNya. mengutip perkataan salah seorang atba'u tabi'in; Ibrahim bin Adham, "seandainya para raja dan pangeran mengetahui kegembiraan dan kenikmatan yang kita rasakan (ketika menuntut ilmu dan beribadah kepada Allah), niscaya mereka akan merampas apa yang kita rasakan tersebut dengan tebasan pedang."
berawal dari sebuah liqo' KKI pula, raga setiap kita dipersiapkan utk menapaki sebuah perjalanan panjang lagi terjal dan berliku. Jalan dakwah namanya.

Hingga dikemudian hari seiring bertambahnya ilmu juga amal kita, Allah mempercayakan sebuah amanah besar lagi mulia di atas pundak kita.
Amanah dakwah di jalan cinta para pejuang dakwah.
Amanah yang ringan di lisan tuk diucapkan namun teramat berat utk dilaksanakan.
Amanah utk menyampaikan 1 ayat saja dari Rasulullah Shalallahu'alahi wasallam, walau sebenarnya jika dipikir-pikir cukup banyak ayat yang kita ketahui, tapi pernahkah kita mencoba memaknai sabda Rasulullah tsb? yang boleh jadi adalah sebuah 'singgungan' kecil buat kita para penuntut ilmu yg enggan utk turut mengambil bagian dari dakwah ini. bahwa ilmu itu setelah diperoleh harus disedekahkan dalam bentuk dakwah, satu ayat itu batas minimal keilmuan yg kita miliki utk disampaikan kepada saudara/i kita yang belum tahu dan jika ternyata hari ini ilmu yang kita ketahui lebih dari satu ayat, maka sampaikanlah semua ilmu tsb dan jangan pernah berhenti menyampaikan sampai takdirNya-lah yang menyebabkan kita berhenti utk selama-lamanya dari jalan ini.

Amanah dakwah yang tidak semua manusia di muka bumi ini dipercaya utk mengembannya, hari ini telah menjadi salahsatu dari sekian aktivitas kita sebagai hambaNya.
ya, Allah telah mempercayakan kita utk menjadi pengurus ummat, menjadi perantara tersampainya hidayahNya kepada hamba-hambaNya yang lain, melakukan pekerjaan mulia yang dahulu pernah dilakoni oleh manusia-manusia mulia sekelas Rasulullah Shalallahu'alahi wasallam, beserta para sahabat/biyah Radhiyallahu'anhum juga para ulama Salafusshalih. Subhanallah...betapa percayanya Allah kepada kita, sehingga memilih kita sebagai pelanjut manusia-manusia mulia itu dalam menyebarkan ajaran Islam. tapi, merasakah kita?
yang kalau mau dipikir-pikir, siapa kita dibanding manusia-manusia mulia itu? dimana kita diantara manusia-manusia mulia itu? pantaskah kita dengan segudang kekurangan menjadi pelanjut generasi-generasi mulai itu?
sungguh..Allah lebih mengetahui kepada siapa Dia menyerahkan amanah besar lagi mulia ini. dan..kita lah yang terpilih, ukhti!
Kita lah yang 'dianggap' mampu olehNya utk meneruskan tongkat estafet dakwah ini hingga kembali padaNya.
kita, ukhti! bukan mereka!

Yah, kita yang senantiasa menyibukkan diri dengan majelis-majelis ilmu disetiap pekannya juga berusaha mengejawantahkannya dalam keseharian ditemani ujian yang kerap kali datang menyapa sebagai bentuk kecintaanNya dan moment utk melihat sejauh mana pengakuan keberimanan kita padaNya.
kita yang senantiasa menjaga hijab syar'i kita dari laki-laki ajnabi di dunia nyata bahkan di dunia maya sekalipun dan meski utk tujuan dakwah sekalipun.
kita yang senantiasa hanya takut, cinta dan harap padaNya.
kita yang senantiasa memohon keistiqomahan padaNya hingga ajal menjemput.
bukan mereka yang cenderung mengisi waktu-waktunya hanya dengan kesia-siaan bahkan kemaksiatan, naudzubillahimindzalik.
bukan mereka yang begitu mudahnya dan tanpa merasa berdosa sedikitpun memperlihatkan aurat mereka di hadapan laki-laki ajnabi.
bukan mereka yang hanya mengejar dunia disetiap urusan mereka.
bukan mereka yang merasa asing sendiri dengan agamanya.
bukan mereka, tapi kita, ukhti!

Sadarkah kita, ukhti?
sadarkah kita, bahwa kita lah bagian dari hamba-hambaNya yang beruntung sebab telah terpilih sebagai penerus dakwah Rasulullah?
sadarkah kita, bahwa jalan dakwah yang hari ini kita berjalan di atasnya merupakan bentuk penjagaanNya kepada kita? yang boleh jadi ketika kita tidak berada di jalur ini kita akan sama seperti mereka bahkan mungkin lebih buruk lagi, naudzubillahimindzalik.
sadarkah kita, bahwa bergabungnya kita dalam jamaah ini adalah salah satu nikmat dari sekian banyak nikmat yang telah Dia berikan? dan sudahkah nikmat menjadi seorang muharrikah dakwah senantiasa kita syukuri?

Inilah salah satu sisi yang terkadang luput dari perhatian kita.
maka, tak jarang dari kita yang masih berpikiran bahwa adanya kita dikepengurusan dakwah ini karena dipanggil oleh ukhti fulanah, atau hanya kebetulan saja karena kita memang suka berorganisasi, atau terlibatnya kita dalam kafilah dakwah ini merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja; tidak ada yang istimewa.
yang terkadang pada suatu masa memicu timbulnya rasa jenuh, terbebani, terkekang dengan amanah dakwah ini.
oleh karena itu, mulai sekarang cobalah utk mengubah paradigma kita ttg amanah dakwah.
agar kita benar-benar merasa beruntung telah menjadi bagian dari pembawa obor kebenaran. pede menatap dunia dengan jabatan sebagai pelayan ummat.
agar kita semakin memaknai setiap detil kejadian yang kita alami di jalan ini, yang menyenangkan ataupun tdk. krn sdh sunnatullah setiap persinggungan akan meninggalkan bekas entah bekas itu berupa kebahagiaan, luka, kesedihan, canda, dan banyak lagi efek yang mampu disebabkan oleh sebuah interaksi.
agar kita lebih menjiwai setiap amanah yang sama kita lakoni di jalan ini, baik itu kecil ataupun besar. krn setiap amanah itu memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda dan tdk semua dari kita dapat mengatasi kesulitan-kesulitan tsb. menjadi pemimpin dalam sebuah jamaah dakwah itu sulit, tapi menjadi yang dipimpin juga tdk mudah, maka pandai-pandailah kita menempatkan diri sebagai pemimpin dan yg dipimpin sehingga amanah tsb benar-benar maksimal kita tunaikan.
agar kita semakin merasa memiliki jalan ini yang membuat kita merasa sangat bersedih ketika ada bagian dari jalan ini yang rusak. entah karena penggunanya yg cuek ataupun krn niat yg melatarinya sdh tak murni lagi krnNya.
agar kita lebih ikhlas membaktikan diri di jalan ini, sesibuk apapun kita, masih singel atau sdh menikah dan punya jundi/yah kah kita, ada atau tdknya orang yang memuji pekerjaan kita,
yang pada akhirnya perubahan paradigma ttg sebuah amanah dakwah semakin memantapkan diri utk mengatakan : "inilah jalanku!", "jalan dakwah dan tarbiyah!"

Jamaah dakwah bukanlah jamaah malaikat. jamaah dakwah yang kita pun berada di dalamnya, hanya sekumpulan manusia yang tak luput dari salah dan dosa, maka jangan heran, jika di tengah perjalanan kita akan mendapati kekurangan demi kekurangan tsb melekat pada pribadi saudari-saudari kita yang membersamai kita di jalan ini, begitupun kita yang hanya manusia biasa seperti mereka. entah apapun bentuk kekurangan itu jangan pernah segan utk saling mengingatkan dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. walaupun saudari kita itu lebih tua secara umur dari kita, walau dia lebih dahulu hijrah daripada kita, walau dia 'atasan' kita dalam sebuah departemen, walau dia murabbiyah kita, atau walau dia pemimpin kita dalam jamaah dakwah tsb. dengan tetap memperhatikan adab-adab dalam bernasehat tentunya, agar kebaikan yang kita inginkan dari mereka dapat terwujudkan.
jangan krn keseganan yang tdk pada tempatnya kita justru membuat saudari kita semakin terlena dengan kekurangannya tsb.
dan juga jangan karena kita telah mendapati kekurangan tsb lantas membuat kita panik, berbalik arah lalu mundur teratur dari jama'ah dakwah ini.
jangan sampai dan jangan pernah terjadi, ukhti!

Sudah sunnatullah dalam sebuah perjalanan suatu ketika kita akan mendapati diri kita begitu lelah, letih, penat, redup, tak bersemangat, dan tak sedikit dari kitapun mendapati hati telah dihinggapi oleh berbagai macam jenis virus; entah itu virus merah jambu, virus perusak ukhuwah, virus 'akhwain', virus penyakit hati dan virus-virus berbahaya lainnya.
maka, "mari duduk sejenak utk beriman." inilah yang senantiasa diajarkan oleh sahabat mulia Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu'anhu kepada para sahabatnya.
ya, mari berhenti sejenak.
berhenti sejenak utk memuhasabah segala sesuatu yg telah kita lakukan dan apa2 saja yg akan kita lakukan kedepannya di jalan suci nan panjang ini.
berhenti sejenak utk merefresh kembali niat dalam menapaki jalan panjang berliku lagi terjal..
berhenti sejenak utk melihat kembali bekal yg masih tersisa, apakah masih cukup utk menapaki jalan panjang tak berpenghujung.
hingga suatu waktu atas takdirnya memang kita harus berhenti sebenar-benarnya berhenti.
meskipun sebenarnya kita masih sangat ingin berjalan sebab ternyata diantara sakit, lelah, penat, duka dalam menapaki jalan ini ada senyum, ada gembira, ada semangat yg senantiasa berkobar, ada ukhuwah, dan yg tertinggi ada surga yang telah dijanjikanNya bagi para pengguna jalan ini yg senantiasa berusaha utk istiqomah meski bagaimanapun kondisi yg meliputi hingga ajal menjemput..insyaAllah..

Wahai para muharrikah dakwah di lini manapun antunna berada, bersemangatlah dengan semangat yang tak pernah padam hingga akhir demi mengusung dakwah Ilallah.
bersemangatlah dengan semangat yang senantiasa menyala-nyala demi menerangi jalan dakwah ini hingga dipenghujungnya.
bersemangatlah utk tetap berjamaah di jalan cinta para pejuang dakwah kini hingga kelak dapat beristirahat dengan tenang di dalam jannahNya. "Hai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoiNya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hambaKu, masuklah ke dalam jannahKu." (QS. 89 : 27-30).
Amiin Yaa Rabbal Alamin.



-------***-------
Jazaakumullahu khair atas inspirasi yang diberikan oleh beberapa orang saudari-saudari saya hingga catatan ini hadir, semoga apa yang telah tertuang dalam catatan dari hati ini dapat bermanfaat buat kita semua dan bernilai pahala di sisiNya..amiin Yaa mujibassaailiin.
Kurang lebihnya mohon diampunkan kepada Allah.
Sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Allah; Rabbul Izzati sedang kesalahan itu datangnya dari hamba yang dhaif dan syaithan laknatullahi'alaihi.

Negeri impian, ketika bulan masih tersenyum malu, jumadil awal 1432H

Sumber: http://assyifaa-wisecorner.blogspot.com
Read more

Surat Untuk Para Aktivis Dakwah

Sungguh perjalanan ini amat panjang,,,
Sepanjang yang tak terkirakan, takterpikirkan…
Perjalanan ini tiada berujung,
Tak tampak bagaimana akhirnya…
Tugas ini memang tugas dari langit
Tugas yang amat berat, berat untuk dipikul
Hingga tak semua orang yang berada di jalan ini
Jalan yang penuh onak dan duri

Kami sadar bahwa, kami akan banyak terluka
Kami sadar bahwa, akan mendapat banyak cemoohan
Kami sadar bahwa, akan banyak cobaan yang menerjang
Kami sadar bahwa, rintangan akan selalu mengiringi perjalanan kami
Orang-orang bertanya “Tapi mengapa kalian tetap berada di jalan itu? padahal kalian sudah tau apa akibatnya….”

Kami menjawab,” karena kami yakin akan Janji Allah.”

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Surah Al Baqarah Ayat 261)

Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. (Surah Al Hajj Ayat 58)

Wahai saudara sepejuangan,,,
Betapapun hatimu sedih, jangan pernah rapuh….
Betapapun ragamu terasa lelah, jangan pernah menyerah…
Karena Allah tak pernah salah,
ditiap air mata yang kau keluarkan…
ditiap tetes keringat yang kau teteskan ...
Allah takkan pernah salah menghitungnya…
Dan biarkan, balasan itu datang saat kau beristirahat, karena istirahatnya pejuang, adalah hanya di Surga-Nya.

Kami takkan menyerah, kami akan terus berusaha, kami akan terus berjuang

Kami akan terus bergerak hingga kelelahan itu lelah mengikuti…
Kami akan terus berlari hingga kebosanan itu bosan mengejar…
Kami akan terus berjalan hingga keletihan itu letih bersama…
Kami akan terus bertahan hingga kefuturan itu futur menyertai …
Kami akan tetap berjaga hingga kelesuan itu menemani…


Wahai saudaraku,,,
Ingatlah akan sebuah janji kita
Untuk selalu bersama
Di surga-Nya kelak
Read more

✿ Tentang Saya ✿

Foto Saya
Diriku jauh dari sempurna, jauh dari luar biasa, tak ada yangg bisa dibanggakan dari diriku, inilah diriku ap adanya...

✿ Entri Populer ✿