Keturunan atas Kehendak dan Taqdir Allah


Seorang wanita yang tidak ditakdirkan Allah melahirkan, bisa jadi itu lebih baik baginya, boleh jadi kalau dia melahirkan malah akan tertimpa penyakit berat dan sebagainya.
Allah berfirman :

لِّلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ‌ۚ يَہَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَـٰثً۬ا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ (٤٩) أَوۡ يُزَوِّجُهُمۡ ذُكۡرَانً۬ا وَإِنَـٰثً۬ا‌ۖ وَيَجۡعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًا‌ۚ إِنَّهُ ۥ
عَلِيمٌ۬ قَدِيرٌ۬ 

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak- anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Asy Syura : 49 -50)


Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. Dialah yang menciptakan dan menentukan apa yang Dia kehendaki. Dalam ayat di atas, Allah memaparkan empat golongan manusia ditinjau dari sisi keturunan yang dikaruaniakan kepada mereka.


[1]. Allah mengaruniakan anak perempuan saja.
[2]. Allah mengaruniakan anak laki-lakai saja
[3]. Allah mengaruniakan anak laki-laki dan perempuan
[4]. Allah menjadikan seseorang mandul, tidak beranak.


---
Kepada saudari - saudariku yang belum dikaruniai,Semoga Allah membalas dengan kebaikan atas kesabarannya. Kita mohon kepada Allah, Yang Maha Tinggi lagi Mahakuasa agar memberikan kepada kita semua taufik dan pahala. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permintaan.


maroji' :
Majalah Al Furqon Edisi 12 Th III Rojab 1425 H
Al Manhaj
Read more

Wahai Pemilik Hati Yang Patah..


Untuk yang sedang bersedih
Beramalah kerana Allah, agar peluhmu tidak sia-sia. Jangan kau hentikan amalmu kerana banjir airmata kecewa yang menghalang jalanmu. Sesungguhnya Allah tidak pernah luput hitungannya. Dia akan meninggikan setiap hamba yang jatuh bangun menyempurnakan pengabdian padaNya.

Wahai jiwa yang sedang layu…
Panjangkanlah sujudmu di malam-malam sunyi. Agar kau tahu bahawa keindahan tetap bersemayam di hati orang-orang yang mendapati cinta Illahi. Dan menangislah sepuasnya… ketika hanya ada kau dan Dia. Adukan sahaja segala resahmu. Sebab dialah yang memiliki jawabannya.

Wahai jiwa yang sedang dirundung gelisah…
Jangan pernah berhenti mendengarnya bertutur. Walau ceritanya merobek-robek harapan yang sedang kau tumbuhkan. Kadangkala manusia tidak mengenal dirinya sendiri bukan? Dengarlah nasihat seorang bijak, tentang seseorang yang sedang mencari kebahagiaan. Kebahagiaan hanya akan diperoleh dengan banyak memberi.

Untukmu yang sedang luka..
Jangan pernah engkau hentikan lantunan ayat-ayat cinta. Sekalipun suaranya tenggelam tertelan riuh desakan air mata. Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan terubat dengan lantunanmu. Maka teruskanlah nyanyian sucimu.


Hai pemilik hati yang patah..
“…yang kau sayang selalu sahaja menerbitkan kesedihan hatimu..” Percayalah bahawa cinta dapat ditumbuhkan dimana saja. Jika hati diumpamakan pintu, adalah wajar jika kita mengetuk pintu yang salah. Insya Allah, Kau yang akan menemukan pintumu. Mintakan pada Dia yang Menebar Cinta!


Kawanku yang dicintai Allah..
Hidup ini hanyalah permainan yang harus kita mainkan dengan sungguh-sungguh. Maka, tiada gunanya berlama-lama dalam duka. Duka yang bertahun hanya akan membuatmu buta akan banyak kebahagiaan yang disajikan Allah padamu. Duka yang kau genggam akan membuatkan mu jauh dari rasa syukur.



Ini untukmu yang sedang bersedih
Dalam rangka menasihati diri sendiri…
Read more

N U R A N I: Penyesalan...

N U R A N I: Penyesalan...: "Dari Fahmi di Jawa Timur Assalamu ‘alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh Pendengar Nurani yang budiman P..."

Read more

Hapuslah Air Mata di Pipi, Hilangkan Lara di Hati

Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.

Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada. Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.
Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.

Duhai...

Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala pun telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta'atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya? Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?

Letih...

Sungguh amat letih jiwa dan raga. Sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa, tanpa tahu adakah belahan jiwa yang menunggu di sana.

Duhai ukhti sholehah...

Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana, selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.

Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Sang Pemilik Cinta. Kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri, duhai ukhti. Taqarrub-lah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya, bukankah hanya Ia yang Maha Memberi dan Maha Pengasih. Ikhtiar, munajat serta untaian doa tiada habis-habisnya curahkanlah kepada Sang Pemilik Hati. Tak usah membandingkan diri ini dengan wanita lain, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, meski ia tidak menyadarinya.

Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa. Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tausyiah-lah selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.

Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya.

Sabarlah ukhti sholehah...

Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa.

Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup ini. Dengan kebesaran hati dan jiwa, dirimu akan menemukan apa rahasia di balik titian kehidupan yang telah dijalani. Hingga, kelak akan engkau rasakan tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri.

Semoga. Wallahua'lam bi shawab.
Read more

Cerita Ketulusan Cinta

Sulit rasanya mempercayai pernyataan suami atau istri bahwa ia tidak mencintai pasangannya. Sebab kenyataannya banyak pasutri yang tidak lagi memahami apa itu cinta.

Sebagaimana kenyataan yang ada sebagai episode sandiwara bumi telah membuktikannya. Saat cinta itu ada, tak semua yang memilikinya memahami hakikat cinta. Tak semua suami atau istri tahu bahwa ia telah dibuai cinta.

Di sisi lain, betapa banyak rumah tangga yang berdiri kokoh dan tidak dibangun atas dasar cinta. Dan memang sebuah rumah tangga tak selamanya harus dibangun atas dasar 'cinta'. Bisa saja cinta belum sempurna tunas-tunasnya di saat sebuah rumah tangga dimulai pembangunannya. Namun siapa sangka bahwa tumbuhnya cinta ternyata tak sebanding dengan lamanya masa. Sebelum bangunan rumah tangga sempurna terkadang cinta justru melejit mendahuluinya dan telah begitu jauh sempurna.


Tentang hal ini, cobalah perhatikan cerita ketulusan cinta yang tak pernah diduga-duga pemiliknya. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berselisih pendapat dengan istrinya, A'isyah radhiallaahu 'anha. Perselisihan tersebut sempat menjadikan A'isyah radhiallaahu 'anha marah. Adalah Rasulullah shallaahu 'alaihi wasallam tatkala ingin melipurnya, beliau kemudian berkata kepadanya, "Siapakah yang akan menjadi hakim untuk perselisihan kita ini?"

Dan A'isyah radhiyallahu 'anha menginginkan ayahnya, Abu Bakr radhiyallahu 'anhu yang menjadi hakimnya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan seorang sahabatnya agar memanggilkan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Di saat Abu Bakr radhiyallahu 'anhu telah tiba di hadapan mereka berdua, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian berkata kepada A'isyah radhiyallahu 'anha, "Engkau atau aku yang menceritakan permasalahan kita kepada Abu Bakr?"

A'isyah radhiallaahu 'anha pun menjawab, "Engkau saja yang menceritakan!"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun kemudian menceritakannya kepada Abu Bakr ash-Shiddiq radiyallahu 'anhu. Namun sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai bercerita, tiba-tiba A'isyah radhiallaahu 'anha berkata, "Putuskanlah dengan keadilan atau kejujuran, atau dengan kebaikan lainnya..."

Mendengar perkataan putrinya, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallaahu 'anhu pun merasa kesal. Sebab perkataannya tersebut terasa meremehkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang bercerita. Maka ia pun menampar wajah putrinya, A'isyah radhiallaahu 'anha hingga hidungnya berdarah, sembari berkata kepadanya, "Bodoh, siapa yang dapat berbuat adil jika bukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?"

Begitu melihat keadaan A'isyah radhiallaahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendekatinya kemudian membersihkan hidungnya dengan air. Setelah itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakr radhiallaahu 'anhu , "Bukan ini yang kami inginkan, bukan ini yang kami inginkan!"

Allahu Akbar! Siapa yang bisa memahami bahwa itulah ketulusan cinta?

Disebutkan di dalam kitab sejarah, bahwa setelah ath-Thufail Bin Amru ad-Dausi memeluk Islam, ia menolak berdekatan dengan istrinya. Bahkan ia mengatakan kepadanya, "Sekarang engkau telah haram bagiku."

Istrinya bertanya, "Mengapa?"

Ath-Thufail menjawab karena aku telah memeluk Islam."

Istrinya pun berkata, "Aku adalah bagian darimu dan engkau adalah bagian dariku. Agamaku adalah agamamu."

Kemudian ia pun turut memeluk Islam.

Bisakah kita memahami bahwa itulah ketulusan cinta?

Disebutkan di dalam kitab sejarah pula, bahwa setelah Perang Uhud, para sahabat kembali dengan membawa para syuhada' adalah tiga putra Himnah binti Jahsy radhiyallaahu 'anhaa dan suaminya. Tatkala Himnah binti Jahsy radhiallaahu 'anha memeriksa para syuhada' tersebut satu per satu, ia bertanya kepada para sahabat, "Siapakah orang ini?"

Para sahabatpun menjawabnya.

Himnah radhiallaahu 'anha pun mengatakan, "Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uu." Dan di saat tiba giliran yang ditanyakan ialah tiga putranya, ia pun berkata dengan perkataan yang sama. Namun tatkala yang ditanyakan ialah suaminya, Mush'ab bin Umair radhiallaahu 'anhu, yang telah mati syahid, maka seketika Himnah radhiallaahu 'anha pun menjerit dan menangis. Sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata, "Sesungguhnya keberadaan seorang suami sangat berarti bagi istrinya."

Allahu Akbar!

Tak kalah menariknya ialah cerita ketulusan cinta berikut ini. Suatu hari, ada seorang istri muslimah yang taat. Dia memegangi syari'at berjilbab dengan baik, sehingga menutup wajahnya dari laki-laki yang bukan mahromnya. Suatu saat ia menuntut suaminya untuk memberikan beberapa haknya, tetapi suaminya mengingkarinya. Akhirnya istri ini pun mengadukan hal ini ke pengadilan agama. Pada saat sidang, hakim berkata kepada si istri,

"Engkau harus menghadirkan beberapa orang saksi."

Tatkala para saksi telah hadir, hakim pun berkata kepada si istri, "Sekarang bukalah cadarmu, agar para saksi bisa mengenalimu."

Melihat si istri akan membuka cadarnya di hadapan para saksi dan laki-laki lainnya yang tidak halal melihat kecantikannya, suaminya tiba-tiba mengatakan, "Tidak, wahai Hakim! Jangan anda meminta istri saya membuka wajahnya, Baiklah saya mengaku telah menaahan hak-haknya."

Mendengar perkataan suaminya tersebut, si istri langsung berdiri lalu beranjak menuju suaminya dan duduk di sampingnya, kemudian ia pun berkata kepada hakim, "Aku bersaksi kepada Anda wahai hakim, aku telah melepas hak-hakku dari suamiku, dan aku telah membebaskannnya dari tuntutanku."


Hakim pun lalu berkata, "Tulislah hal-hal ini di dalam bagian makarimul akhlaq (akhlak-akhlak yang terpuji)."

Masya Allah.

Benar-benar sebuah ketulusan cinta. Tetapi siapa yang mengetahuinya?

Boleh saja seorang istri mengatakan, "Aku tidak mencintai suamiku!" Boleh saja seorang suami mengatakan, "aku tidak bisa mencintai istriku." Namun tentunya boleh juga kita mengatakan, "Bagaimana bila aku tidak percaya?"

Pasalnya siapa yang akan mengingkari cerita-cerita di atas adalah cerita cinta? Ya, memang benar, itulah cinta.

Jadi, apa yang mendorong seorang suami untuk ingin segera pulang ke rumah menemui istrinya bila bukan cinta? Apa yang menjadikan seorang istri merasa gundah dan khawatir saat suaminya belum juga pulang, kalau bukan cinta?Apa pula yang menjadikan seorang suami merasa gundah dan khawatir saat melihat istrinya dalam keadaan sakit bila bukan cinta?

Memang banyak suami atau istri yang memahami cinta lain dari yang kita sebutkan. Akan tetapi, betapa banyak suami dan istri yang memahami cinta dengan pemahaman yang lain, yang mengatakan bahwa dirinya tidak mencintai pasangannya, namun saat istri atau suaminya sedang sakit atau semacamnya, ia merasa sangat cemas, bahkan perasaan itu seolah-olah hampir saja membunuhnya. Apa lagi bila bukan karena cinta?

Maka sebagaimana kau mencintainya, yakinlah bahwa ia juga mencintaimu.

Diramu dari buku

Auroqul warod wa syaukatuhu fi buyutina.

Diketik ulang dari Majalah Al-Mawadah vol.39 robi'utsnsani 1432 H/maret-april 2011(rubrik Taman Pasutri) oleh: Ust. Abu Ammar Al-Ghoyami

Sumber : http://bintuzainuddin.blogspot.com
Read more

3 Tahun Rasulullah Menanti Buah Hati dengan Sabar

from the book “khadijah : the true love story of Muhammad”

khadijah menanti buah hati dengan Rasulullah selama 3 tahun lebih , dan di tengah pengharapannya dan doa yg tiada putus kepada Allah , beliau pada usia 43 tahun akhirnya hamil

Satu persoalan selesai.Persoalan lain datang.Sayyidah Khadijah ingin anak yang dikandungnya laki2.Karena saat itu, di tengah masyarakat yg masih jahil, anak laki2 merupakan kebanggaan, sedang anak perempuan tidak.
Persalinan berlangsung lanc…ar , lahirlah anak laki2 yg diberi nama Qasim
beberapa bulan kemudian, subhanallah khadijah hamil kembali :) .Qasim tumbuh dengan sehat ,
dan anak kedua pun lahir, kali ini Allah menganugerahi anak perempuan, yang diberi nama zaenab .Rasul bergembira, bagi beliau anak laki2 dan perempuan… sama2 anugerah.

Qasim pun tumbuh sehat, hingga di usianya yang kedua.
Allah mengambilnya, kesedihan dan ujian bagi keluarga Rasul.musibah yang sungguh mengagetkan, kesedihan menyelimuti, tetapi Allah memberikan apapun pada siapapun yang Dia kehendaki .
Rasul mengatakan
“Air mata boleh mengalir , hati boleh sedih, tetapi lisan hanya boleh mengucapkan apa yang membuat Allah Ridha”

setahun lemudian, khadijah hamil kembali, beliau berharap kali ini Allah menganugerahkan pengganti Qasim, seorang anak laki-laki. Ternyata Allah berkehendak lain, anak perempuan berparas cantik yang lahir, ia bernama ruqayyah, demikian juga… anak ke3 ummu kultsum dan anak ke4
SITI FATIMAH, Penghulu wanita beriman yang sangat dicintai Rasulullah.
Read more

✿ Tentang Saya ✿

Foto Saya
Diriku jauh dari sempurna, jauh dari luar biasa, tak ada yangg bisa dibanggakan dari diriku, inilah diriku ap adanya...

✿ Entri Populer ✿